Jumat, 26 September 2008

PENGEDAR INOKULAN GAHARU

GAHARUMAN MEMBUKA TAWARAN BAGI USAHAWAN BAGI MENGEDARKAN DAN MEMPERKANALKAN PRODUK TERBARU KAMI IAITU GMI 1. SESIAPA YANG BERMINAT SILA HUBUNGI KAMI SEGERA. JADILAH RAKAN NIAGA BERSAMA KAMI. MAJULAH INDUSTRI GAHARU NEGARA

Rabu, 24 September 2008

Senin, 15 September 2008

INOKULAN GAHARU


Gaharuman melangkah kehadapan dalam meningkatkan industri gaharu negara kerana telah berjaya mencipta Inokulan . Inokulan ini adalah kajian anak tempatan dan sangat sesuai untuk pokok-pokok gaharu di Semenanjung Malaysia, Sabah, Serawak dan juga Indonesia.
Dengan adanya Inokulan ini mudah-mudahan dapat membantu masyarakat dan pencinta gaharu untuk meningkatkan ekonomi. Inokulan ini juga telah terbukti hasil tindak balasnya keatas pohon gaharu yang disuntik. Kami membuka kepada masyarakat yang ingin menggunakan Inokulan ini supaya hadir ke Seminar dan latihan di Kerdau Temerloh Pahang pada 29 - 30 November 2008 nanti. Kepada yang berminat sila buat tempahan awal.

Sila hubungi kami di 013-3707271 / 019-3958800

Keterangan gambar
Inokulan Gaharu - 1 liter

HASIL SUNTIKAN INOKULAN - SUMBER MAJALAH TRUBUS


WANGIAN DARI KEBUN

Untuk memperoleh 21 kg gubal gaharu, Adi Saptono tak perlu menjelajah hutan yang menguras tenaga. Ia cukup menebang 3 pohon di kebunnya setahun pascainsersi. Dari penjualan gubal itu, total pendapatannya Rp52-juta.
(RM 21 000.00)

Adi Saptono memang mengebunkan 10 ha gaharu masing-masing terdiri atas 400 pohon per ha. 'Di halaman belakang rumah ada 200 pohon,' kata pekebun di Pangkalpinang, Bangka-Belitung itu. Gaharu-gaharu di kebun itulah yang ia panen setelah setahun disuntik cendawan. Pohon-pohon lain anggota famili Thymelaeceae itu menyusul panen pada bulan mendatang. Adi tak perlu repot memasarkan gaharu. Soalnya, importir asal Taiwan mendatangi rumahnya. 'Importir itu malah minta pasokan rutin 10 ton sehari,' katanya.

Johny Wangko, pekebun lain yang mencecap bisnis gaharu. Maret 2008, memasarkan 15 kg kamedangan-gubal gaharu kelas 3. Produktivitas gaharu Aquillaria malaccensis rata-rata 2 kg per pohon setinggi 4 m. Dengan harga Rp1,3-juta/kg , Johny Wangko mengantongi Rp20-juta. Padahal, 6 tahun silam ketika hendak mengebunkan gaharu, rekannya meragukan. 'Saya saja tak pernah panen,' kata karibnya itu yang menanam 60 pohon di Bogor dan Sukabumi, keduanya di Jawa Barat.

Di Bogor ia menanam 7 jenis gaharu seperti Aquillaria filaria dan A. cumingiana dari Seram, A. hirta (Batam), A. malaccensis (Kalimantan Selatan), dan A. crassna (Indocina). Selain di sana, Johny juga mengebunkan gaharu di Desa Serdang, Bangka Selatan, sebanyak 140 pohon. 'Yang di Sukabumi untuk tabungan saya, jadi dipanennya nanti saja kalau sudah tua,' kata pria 59 tahun itu.

Marak

Lima tahun terakhir memang banyak orang mengebunkan pohon penghasil gaharu. Di Kubangan, Riau, ada Rama yang mengebunkan 4.000 gaharu di lahan 4 ha. Nun di Dusun Hena, Flavo, Kecamatan Sentani Tengah, Papua, Doren Woku menanam 50 gaharu beringin Aquillaria filaria di halaman rumah. Selain di halaman rumah, ayah 3 anak itu juga menanam 100 pohon di kebun di Siklop, Sentani. Sekarang umur pohon 4 tahun dan siap disuntik cendawan.

Pekebun-pekebun lain tersebar di berbagai kota seperti Mataram, Sanggau, dan Bengkulu Utara. Mengapa mereka mengebunkan gaharu? Harga jual tinggi-mencapai Rp30-juta per kg-menjadi daya tarik utama. Siapa tak tergiur harga selangit itu? Itulah sebabnya banyak pemburu mencari gaharu di hutan. Akibatnya, populasi pohon penghasil gaharu di alam pun semakin menyusut. Beberapa spesies seperti Aquillaria malaccensis kini termasuk appendix II oleh Convention on International Trade of Endangered Species Wild Flora and Fauna (CITES).

Oleh karena itu, satu-satunya jalan untuk menyiasatinya adalah dengan budidaya . Itu bukanlah hal mudah. Maklum, selama ini tak ada yang memanen gaharu di kebun. Nah, Johny Wangko dan Adi Saptono termasuk pekebun pertama yang menikmati manisnya memanen gaharu.

Menurut Dr Erdy Santoso, periset gaharu di Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan dan Konservasi Alam, membudidayakan gaharu mempunyai banyak kelebihan ketimbang mengambil di alam.

Di alam, cendawan baru dapat masuk ke jaringan tanaman ketika ada 'pintu masuk', misalnya cabang patah diterjang angin. Masalahnya, menunggu cabang patah tak menentu. Bandingkan bila pekebun

membudidayakan gaharu. Kapan pun mau, pekebun dapat menyuntikkan cendawan ke pohon dewasa-minimal 5 tahun. Selain itu Departemen Kehutanan melalui Balai Konservasi Sumber Alam (BKSDA) juga membatasi jumlah penjualan gaharu alam di dalam negeri dan mancanegara.

Dari tahun ke tahun, kuota ekspor gaharu cenderung menurun. Pada 2000, kuota jenis A. filaria mencapai 200 ton dan A. malaccensis 225 ton. Pada 2005, kuota anjlok masing-masing menjadi 125 ton dan 50 ton. Ketika populasi menipis di hutan, sementara pasar terbentang luas, membudidayakan gaharu solusi terbaik. Apalagi tak mungkin mengandalkan pasokan gaharu dari hutan lantaran regulasi itu. Menurut Erdy penampilan gaharu alam dan budidaya relatif sama. Untuk mengawasi peraturan itu BKSDA rutin menyambangi kebun gaharu milik masyarakat.

Kuota

Menurut Ir Agus Djoko Ismanto, periset gaharu Pusat Penelitian Hutan dan Konservasi Alam, pasar gaharu tak terbatas. Johny Wangko, eksportir juga mengatakan hal serupa. 'Importir Taiwan siap menampung berapa pun banyaknya,' katanya. Sayang, karena jumlah pohon masih sedikit, Johny tak sanggup memenuhi permintaan Taiwan.

Syaswirizal dari CV Aroma, eksportir gaharu sejak 1995, juga kelimpungan mencari pasokan gaharu untuk melayani total permintaan 140 ton per tahun. Ia hanya sanggup memasok 40 ton. Pasar yang menyerap gaharu adalah Singapura (75%), Timur Tengah (17%), dan Taiwan (5%). Selebihnya terserap pasar Hongkong, Jepang, dan Malaysia, 'kata Muhammad Faisal Salampessy, eksportir gaharu.

Di Arab Saudi, misalnya, gaharu menjadi kebutuhan rutin setiap rumahtangga. 'Sehabis membersihkan rumah, menyambut kedatangan tamu, atau pada perayaan-perayaan khusus, mereka pasti membakar gaharu sebagai pengharum,' kata Agus Djoko Ismanto. Negeri kaya minyak itu menghabiskan 2,5-miliar real atau setara US$667-juta setahun untuk pengadaan 500 ton gaharu. Itulah sebabnya banyak orang Indonesia yang umroh-ke Mekkah- menenteng 2-3 kg gaharu kelas kacangan untuk dijajakan di sana. Gubal gaharu laku 800-1.000 real setara Rp2-juta-Rp2,5-juta per kilogram.

Penjualan gaharu langsung juga marak ke Singapura dan Malaysia. 'Dalam sehari bisa keluar sampai 100 ton gaharu ke Singapura,' kata Johny. Hal itu juga berpengaruh terhadap pergerakan harga. Harga gaharu super, misalnya, semula Rp15- juta per kg, kini Rp30-juta. Gaharu super berwarna hitam pekat dan tenggelam bila dimasukkan dalam air. Itu lantaran tingginya permintaan, tapi kuota terbatas.

Jangankan gubal, sisa kerikan kayu gaharu saja laku Rp100.000 per kg. Bahkan suloan alias abu bekas kerikan terjual Rp25.000 per kg. Suloan dimanfaatkan untuk membuat minyak bermutu tinggi. Untuk membuat 100 ml parfum biasanya dibutuhkan 100 cc minyak mawar atau minyak melati. Dengan minyak gaharu cukup 5 cc saja, dan bisa bertahan sampai 6 hari. 'Makanya, semua parfum mahal pasti mengandung gaharu,' kata Erdy.

Harga minyak gaharu cukup tinggi berkisar US$150-US$200 per 10 cc. Malahan ampas hasil sulingan minyak pun bisa dimanfaatkan sebagai obat nyamuk. Di pasaran, ampas itu dihargai Rp8.000-Rp10.000 per kg. Sedangkan air bekas sulingan minyak sebagai pupuk. Dengan banyaknya nilai tambah dari gaharu, wajar jika harga gaharu semakin menjulang. Untuk itulah saatnya kini membudidayakan gaharu. (Lani Marliani/Peliput: Destika Cahyana)

Suntikan Inukolan - Sumber Majalah Trubus Indonesia


Setahun Panen Gaharu

Lubang itu teramat mungil: diameter 2 mm dan kedalaman 5 mm. Bekas gerekan serangga Zeuzera conferta di batang karas itu menjadi gerbang bagi cendawan penghasil gaharu. Dengan lubang mini itulah justru Erdy Santoso memanen gaharu hanya dalam waktu setahun; lazimnya, 3 tahun pascapenyuntikan.

Erdy Santoso, periset Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan dan Konservasi Alam itu menerapkannya di beberapa pohon karas Aquillaria malaccensis milik Johny Wangko. Setahun kemudian pada penghujung Maret-April 2008, Johny memanen 15 kg kamedangan. Kamedangan adalah gaharu kelas tiga yang dijual US$150 setara Rp1,35-juta per kg. Artinya pekebun gaharu di Desa Serdang, Bangka Selatan, itu meraup omzet Rp20-juta dari penjualan 15 kg kamedangan.

Yang menggembirakan tentu saja bukan hanya uang segunung itu. Namun, bagi Johny adalah singkatnya waktu panen yang Cuma setahun. Bandingkan dengan pekebun lain yang panen 2-3 tahun pascapenyuntikan cendawan. Singkatnya waktu panen itu berkat inspirasi serangga Zeuzera conferta yang membuat lubang mini di permukaan batang karas alias gaharu. Selama ini teknologi untuk menginokulasi gaharu dengan cara menggergaji batang sedalam 1 cm secara zigzag.

Perbanyak lubang

Pekebun yang menerapkan teknologi lubang besar berkedalaman 1/3 diameter batang itu baru dapat menuai gaharu setelah 3 tahun. Menurut Dr Irnayuli R Sitepu, ahli bakteri, lubang besar memudahkan masuknya berbagai serangga dan jasad renik lain yang bersifat patogen. Lubang besar juga memicu pohon lapuk. 'Akibatnya pohon busuk dan mati,' ujar doktor alumnus Hokaido University itu. Lubang kecil justru mempunyai banyak kelebihan.

Pertama karena menghemat inokulum alias cendawan yang akan disuntikkan ke dalam lubang. Menurut Ir Ragil SB Irianto MSc, ahli gaharu, lubang 2 mm memerlukan 1 cc inokulum; lubang 1 cm 5 cc. Inokulum dijajakan dalam kemasan 300 cc dengan harga Rp50.000. Lubang kecil memang mengakibatkan lamanya waktu virulensi. Oleh karena itu, 'Saya perbanyak jumlah lubang,' kata Erdy.

Pohon setinggi 4 m, misalnya, terdiri atas 300 lubang. Erdy membuat lubang-lubang itu dengan bor. Poros lubang zigzag dengan jarak 5-10 cm agar, 'Gaharu yang terbentuk berkumpul dan membentuk lingkaran,' ujar peneliti gaharu sejak 1984 itu. Dengan lubang zigzag, praktis semua bagian pohon terinfeksi cendawan yang pada akhirnya membentuk gaharu.

Ahli patologi hutan itu juga menyuntikkan cendawan di bagian akar. Ia menggali akar yang terpendam dalam tanah dan mengebornya. Cara dan jarak pengeboran sama dengan pembuatan lubang di batang. Setelah cendawan disuntikan ke akar, ia menutupnya dengan parafi n untuk mencegah masuknya mikroorganisme patogen.

Cendawan top

Rahasia sukses panen cepat gaharu itu juga berkat cendawan unggul koleksi Erdy. Pria 50 tahun itu mengumpulkan cendawan dari 17 provinsi seperti Jambi, Gorontalo, Kalimantan Barat, dan Sumatera Barat. Dari 23 cendawan yang biasa menginfeksi gaharu, Erdy menemukan 4 unggulan. Semua bergenus Fusarium. Sayang, Erdy enggan mengungkap spesies cendawancendawan itu lantaran tengah dipatenkan.

Perpaduan antara cendawan dan teknik suntik terbaru itu menghasilkan proses infeksi lebih cepat. 'Sebulan setelah penyuntikan, sekitar lubang sudah tampak kehitaman,' kata Johny Wangko yang menerapkan temuan Erdy. Setahun kemudian, 1-2 kg resin gaharu bisa dipanen. Kayu terinfeksi itu berwarna hitam dengan gurat-gurat putih samar. 'Jika dibiarkan 1-2 tahun lagi, gaharu yang terbentuk akan lebih banyak dan lebih hitam,' katanya.

Menurut Drs Yana Sumarna MSi, periset Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan, proses terbentuknya gaharu akibat pohon terluka dan terinfeksi patogen. Mekanisme proses fi siologis terbentuknya gaharu dimulai dari masuknya mikroba penyakit ke dalam jaringan kayu. Untuk mempertahankan hidup dan perkembangannya, mikroorganisme itu memanfaatkan cairan sel jaringan pembuluh batang sebagai sumber energi. Secara perlahan, efek hilangnya cairan sel menurunkan kinerja jaringan pembuluh dalam mengalirkan hara ke daun.

Sel-sel yang isinya sudah dikonsumsi mikroba itu akan membentuk suatu kumpulan sel mati pada jaringan pembuluh. Akibatnya, fungsi daun dalam memproses hara menjadi energi pun terhenti sehingga daun menguning dan tanaman mati. Secara fisik, cabang dan ranting mengering, kulit batang pecah, dan mudah dikelupas. Kondisi itu merupakan ciri biologis pohon yang menghasilkan gaharu. Singkatnya, gaharu terbentuk sebagai hasil respon tanaman terhadap infeksi patogen, luka, atau stres. (Lani Marliani)

LAWATAN KE KEBUN GAHARU DI JAWA BARAT



Pada 24 Ogos 2008, semasa lawatan kami ke Indonesia, kami sempat melawat kebun gaharu di Bogor. Pohon-pahon ini berusia 7 tahun, telah disuntik Inukolan dan sedang menunggu masa untuk di tuai. Ada beberapa pohon yang sedang berbuah dan dijangka akan mengeluarkan benih gaharu unggul pada bulan Disember nanti. Gaharu unggul ? Ya, gaharu unggul kerana benih asal adalah benih terpilih dan akan mengeluarkan benih unggul F3. Semoga di tahun akan datang kita (Malaysia) mempunyai kebun benih unggul untuk masa depan anak bangsa kita. Kami GAHARUMAN RESOURCES sedia bekerjasama dengan pihak kerajaan dan jabatan untuk menghasilkan kebun benih unggul. Sekian

PENDAFTARAN DIBUKA - KURSUS PENANAMAN DAN INDUSTRI GAHARU BULAN NOV 2012

Dijemput kepada penanam, bakal penanam pokok gaharu supaya menghadiri Kursus Penanaman Gaharu. Matlamat kursus ialah mendedahkan kepada peserta cara-cara penanaman gaharu (mengikut cara yang betul) mengenal jenis pokok gaharu, mengetahui potensi hasil gaharu dan indusrtinya dan pasarannya. Anda akan didedahkan ilmu dan maklumat oleh En. Mat Hasbollah Bin Sudin ( Pengurus Besar Gaharuman Resources) Kursus tersebut akan diadakan pada :

Tarikh : 25 NOVEMBER 2012 (Ahad)


Masa : 8.30pg - 3.30ptg

Tempat : Tanjong Karang Selangor.

Yuran : RM 250.00

Makan minum, kertas kerja, sijil penyertaan diberi.

Maklumat lanjut 0133707271

Gaharu

Gaharu
GAHARU sejenis kayu dengan berbagai bentuk dan warna yang khas, serta memiliki kandungan kadar damar wangi, berasal dari pohon atau bagian pohon penghasil gaharu yang tumbuh secara alami dan telah mati, sebagai akibat dari proses infeksi yang terjadi baik secara alami atau buatan pada pohon tersebut, dan pada umumnya terjadi pada pohon Aguilaria sp. (BSN, 1999).